My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index

St. Juan Diego

Pada tanggal 30 Juli 2002, dalam pelawatannya ke Amerika Latin, Paus Yohanes Paulus II menjadikan Juan Diego sebagai orang Indian pertama yang digelarkan sebagai orang kudus dalam gereja Katolik. Sebelum Juan Diego dikanonisasikan, banyak perdebatan terjadi di antara para klerus di Meksiko yang mengklaim bahwa Juan Diego cumanlah tokoh dalam legenda yang tak pernah hidup di bumi Meksiko. Berdasarkan pada keraguan akan eksistensi Juan Diego di atas, mereka meminta agar Paus menunda kanonisasi tersebut. Namun mayoritas penduduk Meksiko menyatukan identitas nasional Meksiko dengan Maria dari Guadalupe, serta dengan Juan Diego yang kepadanya Maria berkenan menampakkan dirinya.

Sedikit sekali yang bisa diketahui tentang kehidupan Juan Diego sebelum pertobatannya. Namun dari sumber-sumber tradisi dan sumber arkeologis serta iconografis, serta document tertua suku Indian El Nican Mopohua\" yang ditulis oleh Antonio Valeriano berkenaan dengan peristiwa Guadalupe (yang ditulis dalam bahasa Nuatl dengan menggunakan huruf Latin), dapatlah diketahui sedikit informasi tentang kehidupan St. Juan Diego.

Juan Diego dilahirkan pada tahun 1474, sebelum kedatangan orang Eropa ke Amerika Latin, dan diberi nama \"Cuauhtlatoatzin\" yang berarti Garuda yang mampu bersuara? di desa Cuautlitlzin yang sekarang ini merupakan bagian dari kota Meksiko. Ia berasal dari suku Chichimeca, satu suku Indian yang sudah cukup maju kebudayaannya yang menempati lembah Anuac.

Ketika ia berumur 50 tahun, ia dibaptis oleh Peter da Gand, seorang imam Fransiskan. Pada tanggal 9 Desember 1531, ketika Juan Diego sedang dalam perjalanan untuk mengikuti Ekaristi sebagaimana kebiasaanya setiap hari, Bunda Maria menampakkan dirinya di pegunungan Tepeyac. Bunda Maria memintanya untuk mendatangi Uskup dan meminta agar di tempat itu dibangun sebuah Groto (gua Maria). Didorong oleh keraguan serta ketidak-percayaannya atas apa yang dikatakan oleh Juan Diego, Uskup meminta suatu tanda yang mengukuhkan penampakan tersebut. Pada tanggal 12 Desember ketika Juan kembali lagi ke Tepeyac, Bunda Maria sekali lagi menampakan diri kepadanya dan meminta agar Juan mendaki bukit tersebut serta memetik bunga yang sedang mekar di sana. Juan mematuhi permintaan tersebut, dan walaupun saat itu adalah musim dingin, namun Juan mendapati mawar yang sedang mekar berbunga. Bunga-bunga tersebut dibungkusnya dalam mantelnya dan dibawa ke hadapan Bunda Maria. Bunda Maria sekali lagi memerintahkan agar Juan membawa bunga tersebut kepada Uskup untuk dijadikan bukti. Ketika ia membuka mantelnya, bunga-bunga berhamburan ke lantai dan di mantel tersebut terdapat lukisan Bunda Maria, yang hingga kini dikenal dengan nama Maria dari Guadalupe. Dengan persetujuan Uskup, Juan Diego melewati sisa hidupnya sebagai seorang hermit (pertapa) di sebuah gubuk dekat Kapel di mana lukisan penampakan tersebut disimpan. Ia menjaga Kapel tersebut serta melayani para peziarah yang datang berdoa kepada Bunda Maria.

Di samping kenyataan bahwa ia dipilih secara lahiriah menjadi utusan Bunda Tuhan, Juan Diego menerima rahmat khusus yang membangkitkan pencerahan batiniah dalam dirinya, yang membuatnya mengabdikan dirinya secara utuh pada kehidupan doa. Ia dilimpahi oleh Cinta yang tak terbatas bagi Tuhan maupun sesama. Pada tahun 1548 ia meninggal dunia dan dikuburkan di Kapel yang dipersembahkan kepada Bunda dari Guadalupe. Pada tanggal 6 Mei 1990, ia dibeatifikasi oleh Paus Johanes Paulus II di Basilika Santa Maria Guadalupe, Meksiko.

Lukisan pada mantel Diego yang tersimpan di Basilika Santa Maria Guadalupe menggambarkan seorang wanita dengan bentuk wajah serta pakaian Indian. Ia didukung oleh seorang Malaekat, yang sayap-sayapnya mengingatkan penduduk asli Indian akan gambaran dewa dalam agama tradisional mereka. Bulan menjadi alas kakinya, dan mantel birunya dipenuhi dengan bintang keemas-emasan. Ikat pinggang hitam yang dipakainya menyatakan bahwa ia sedang dalam keadaan hamil. Jadi gambar tersebut menyimpan suatu makna bahwa Kristus akan segera lahir lagi di antara orang-orang di dunia baru, dunia kaum Indian. Panampakan Maria di Guadalupe telah menghantar mayoritas suku Indian di Meksiko untuk beralih kepada iman akan Kristus.

Tarsis Sigho - Taipei