My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index

Kematian: Guru Kehidupan

Tahun 2000 saya diperkenalkan oleh seorang teman sebuah buku dalam bahasa Cina. Waktu saya ke toko buku eh ternyata dapat juga edisi Inggrisnya. Karena itu di rak bukuku ada dua buku Morrie dalam dua bahasa berbeda dengan isi yang sama. Saya kini menjadi salah satu pencinta buku ini. Ada banyak hal yang bisa diperoleh dari buku ¡§Tuesdays with Morrie¡¨ yang ditulis oleh Mitch Albon ini, yang kini membanjiri pasaran dunia serta menjadi the best seller di tahun 2000-2001.

Profesor doktor Morrie Schwartz adalah mahaguru pada universitas Brandeis di kota Waltham, Massachusetts. Ia adalah seorang profesor teladan dalam arti sesungguhnnya. Ia tidak hanya terkenal di ruang kuliah yang diminati berjuta-juta mahasiswanya. Namun ia juga punya reputasi baik sekali di kalangan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan di antara kaum kaya dan kelas atas, dan lebih utama lagi kepeduliannya yang mendalam terhadap hidup dan kehidupan itu sendiri bagi kaum kecil dan kelompok pinggiran. Kehadirannya lewat keahliannya bagaikan menghantar seteguk air sejuk bagi kaum yang sedang dahaga. Sekali berbicara serentak ada pemecahan tersendiri masalah tertentu yang dihadapi, ada penyembuhan tertentu buat mereka yang sakit.

Pada tahun 1979 Mitch bersama ratusan temannya diwisuda sebagai sarjana dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Saat itulah Morrie mengenal keluarga mahasiswanya Mitch Albon. Ia sempat mengatakan kepada orangtuanya, ¡§You have an excellent and a special boy here.¡¨ Ketika ia hendak meninggalkan keluarga Mitch ia masih balik dan berpesan: ¡§Harap suatu saat nanti kita masih bertemu dalam kuliah seperti yang sudah kita lalui.¡¨ Dan Morrie sang profesor itu menangis.

Morrie meneruskan kariernya seperti biasa sampai tahun 1994, ketika ia yakin bahwa ia tidak mampu berjalan lagi, dan kini ia berusia 79 tahun. Lima belas tahun kemudian Mitch menemuinya lagi, tapi bukan di ruang kelas universitas melainkan di rumah profesornya yang saat itu sudah sangat tua. Morrie hanya bias bergerak di atas kursi rodanya dan mulai pikun, tangannya selalu gemetar, segala sesuatunya diatur oleh orang lain terhadap dirinya. Dalam situasi inilah kuliah baru berlangsung.

Pelajaran terakhir dengan profesor Morrie berlangsung di rumahnya. Seminggu sekali pada setiap hari selasa. Pelajaran dimulai setelah sarapan pagi. Pelajarannya tentang Makna Kehidupan. Dan itu diajarkannya lewat pengalaman. Tidak ada nilai angka yang diberikan. Namun ada ujian lisan setiap minggu. Muridnya, Mitch diharapkan menjawabi berbagai pertanyaan, dan diharapkan pula mengajukan aneka pertanyaan. Tak ada buku khusus yang diwajibkan. Namun banyak topik pelajaran yang terungkap secara spontan misalnya tentang: cinta, bekerja, komunitas, keluarga, usia, pengampunan, kematian.

Ketika berbicara tentang kematian Morrie berkata, ¡¥Setiap orang tahu bahwa suatu saat mereka akan mati, namun mereka tidak mempercayainya. Jika kita percaya bahwa setiap saat kita mungkin akan mati, maka kita pasti akan mampu menghadapi setiap situasi hidup kita dengan cara baru. Anda harus siap menerima kematian anda, karena hanya dengan itu anda akan belajar bagaimana harus hidup.¡¦

Ketika Albon bertanya bagaimana harus menyiapkan diri menghadapi kematian, Morrie menjawab, ¡¥Belajarlah dari kaum Buddha, yang setiap saat seakan-akan membawa seekor burung di pundaknya. Setiap saat mereka akan bertanya kepada burung itu, apakah hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku?? Apakah aku telah siap menghadapi saat kematianku?? Apakah aku telah menyelesaikan segala yang harus aku selesaikan sebelum kematianku?? Apakah aku benar telah menjadi diriku sendiri??¡¦ Ia masih melanjutkan bahwa bila kita tahu setiap saat kita akan mati, maka kita tak akan berusaha mengejar kekayaan duniawi yang fana, atau kedudukan yang rapuh, atau nama yang pasti akan hilang. Kita pasti akan mulai mencari yang terbaik, yakni nilai-nilai spiritual yang bertahan lama, nilai-nilai rohani yang kekal.

------------

Kematian adalah guru kehidupan. Bila hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupanmu, apakah anda siap menghadapinya??

Tarsis Sigho - Taipei