@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Hidup di Balik Topeng

Teringat ketika aku masih di Indonesia beberapa tahun silam. Setiap minggu, aku akan nongkrong di depan layar televisi untuk nonton filem serial dari negeri matahari terbit: "Oshin". Aku sungguh melibatkan seluruh diri saya dalam alur filem tersebut. Saya bahkan seakan turut merasakan penderitaan Oshin ketika ia diperlakukan tidak adil dalam keluarganya. Aku bahkan tak merasa malu untuk turut juga mengucurkan air mata di saat bintang pujaanku itu dihimpit beban yang tak terpikulkan. Aku menjadikan filem itu sebagai sesuatu yang nyata. Aku lupa bahwa itu hanyalah suatu lakonan belaka. Oshin sungguh seorang aktris yang berhasil.

Teringat ketika aku nonton filem "The Passion of the Christ". Mel Gibson menghadirkan kembali peristiwa Kitab Suci 2000 tahun lalu secara amat nyata. Aku seakan tak perlu kembali ke masa silam untuk memahami apa yang terjadi. Tajamnya paku karat yang menembusi daging Yesus, duri yang menembusi kepala Yesus serta cemeti yang menyobek kulitNya kini hadir secara amat nyata di hadapanku. Aku seakan turut merasakan kepedihan yang diderita Yesus. Aku menjerit, aku berteriak tatkala cemeti mencabut dagingNya. Aku seakan menjadi bagian dari keseluruhan kisah tersebut. Aku juga lupa bahwa filem yang sedang aku nonton itu adalah sebuah lakonan, ia bukanlah bagian nyata dari kenyataan hidupku setiap hari.

Dalam bacaan Injil hari ini (Mt 23:27-32) Yesus menghardik kaum Farisi dan para ahli Taurat, Ia menyebut mereka sebagai orang-orang munafik. Kaum munafik!!! Bahasa Inggris menggunakan kata hypocrisy yang diambil dari kata Anglo-French ypocrisie, dan ini diasalkan dari kata Latin hypocrisies. Namun kata Latin ini menemukan akarnya dalam bahasa Yunani hypokrisis yang berarti suatu lakon atau drama yang diragakan di atas pentas. Jadi dalam drama tersebut, seseorang tidak beraksi atas namanya sendiri, tetapi ia mengenakan karakter seorang yang lain. Ia masuk ke dalam dunia sang tokoh yang diwakilinya. Kegembiraan, kepedihan, kemalangan yang dialami pelakon tersebut bukanlah bagian dari kehidupannya sendiri yang nyata.
Boleh dikatakan, para pelakon di atas panggung drama itu adalah juga penipu professional, kita para pemirsa tertipu oleh lakonan mereka.

Dalam arti inilah para kaum Farisi dan ahli Taurat itu dihardik dan dikecam Yesus. Mereka adalah kaum penipu ulung. Mereka tidak bermain drama di atas pentas, tetapi menjadikan seluruh hidup mereka sebagai suatu pentas di atasnya mereka melakonkan drama mereka. Ini berarti bahwa mereka tak pernah menjadi diri mereka sendiri. Mereka adalah kaum yang hidup di balik sebuah kedok yang dijaga rapi. Tak seorangpun mampu mengetahui bahwa mereka sesungguhnya berada di balik sebuah kedok. Orang mengira bahwa kedok indah yang mereka kenakan itu adalah diri mereka yang nyata. Mereka sungguh tertipu.

Mungkin kedok yang mereka pakai itu dikenakan atas nama keluhuran sebuah agama. Nilai-nilai agama dipakai sebagai balut yang indah, pada hal di baliknya tersembunyilah suatu warna kebobrokan. Mungkin kedok yang dipakai itu dikenakan atas nama keluhuran sebuah aturan hukum. Hukum harus ditegakan, keadilan harus dijunjung tinggi. Namun ternyata di balik baju hukum yang indah itu tersembunyilah sekian banyak bentuk ketidakadilan; Ternyata ada begitu banyak pelanggaran hukum tersembunyi di balik kedok indah itu.

Itulah sebabnya Yesus berkata keras; "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan."

Keyakinanku mengatakan bahwa kaum hipokrat ini tidak hanya hidup di masa silam. Tak hanya kaum Farisi dan para ahli Taurat yang dijuluki hipokrat. Di masa ini pun ada begitu banyak orang yang bersembunyi di balik tata nilai yang mapan, namun hidupnya sendiri sebetulnya bertolak belakang dengan tata nilai yang "dianutnya". Kaum hipokrat masih hidup di tengah jaman kita. Ia tidak terlalu jauh untuk dicari. Kita tak perlu berpusing kepala membuang tenaga untuk menemukannya. Hal ini dapat dengan mudah kita temukan di negara kita, di mana begitu banyak badan hukum berteriak atas nama hukum, namun mereka sendiri sering tidak taat pada tuntutan hukum. Yesus menghardik kaum farisi yang demikian, yang menciptakan banyak aturan namun mereka menggolongkan diri dalam kelompok kebal hukum. Dalam gereja kita bahkan dalam keluarga kita pun bisa kita temukan kelompok ini. Dan aku berani taruhan, bila kita mau jujur dan meneliti diri sendiri, kitapun mungkin merupakan bagian dari kelompok manusia yang disebut kaum hipokrat ini.

Kata-kata Mark Twain membenarkan keyakinanku: "We're all like the moon, we have a dark side we don't want anyone to see." Kita semua sama seperti bulan, kita juga memiliki sisi yang gelap namun kita tak ingin orang lain mengetahui hal tersebut. Kita berusaha sekuat tenaga menutupi bagian tersebut. Kita menggunakan berbagai kedok agar bahagian tersebut kelihatan lebih indah, kelihatan lebih cantik, karena dengan cara itu kita mampu mengelabui mata orang lain. Kita mengoles bagian yang gelap itu agar kelihatan putih, sama halnya dengan melabur kubur dengan cat putih dan indah.

Well my friends, be honest. We are all hypocrites. Kita semua adalah kaum munafik. Semoga rahmat Tuhan membantu kita untuk bertobat, untuk memperbaharui diri kita sendiri. Amen.

Tarsis Sigho V Taipei