My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Sang Kafir Yang Beriman

Bacaan Injil hari ini yang diambil dari Injil Lukas (Luk 7:1-10) dapat juga ditemukan paralelnya dalam Injil Mateus. Jelas kelihatan bahwa kedua Penginjil menyuguhkan sebuah kisah yang sama. Namun demikian ada juga perbedaan di antara keduanya. Mateus mengisahkan bahwa sang prajurit datang menghadap Yesus dan meminta agar Ia menyembuhkan hambanya yang sedang sakit lumpuh, sedangkan dalam versi Lukas yang kita baca hari ini, sang prajurit tak berhadapan langsung dengan Yesus. Ia mengirimkan utusan kepada Yesus.

Baiklah kita memperhatikan mereka yang diutus oleh prajurit ini. Yang pertama ia mengutus "beberapa orang tua-tua Yahudi". Bayangkan!! Banyak ahli Kitab Suci sepakat bahwa sang prajurit tersebut adalah seorang Roma. Ia bekerja demi sang penguasa Roma, dan karena itu pasti dibenci oleh kaum Yahudi. Namun dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan bahwa beberapa orang tua Yahudi diutus oleh sang prajurit tersebut. Ini menjadi suatu bukti bahwa sang prajurit telah membangun relasi yang begitu baik dengan kaum Yahudi.

Hal di atas menjadi lebih nyata dalam ucapan utusan tersebut kepada Yesus; "Ia layak Engkau tolong." Kaum tua-tua Yahudi melihat kelayakan dalam diri orang asing tersebut untuk memperoleh rahmat dan belas kasihan Allah. Mereka lalu menderetkan sejumlah litania bukti kebaikan dan kelayakan orang tersebut; "...ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." Sang prajurit telah melangkah lebih jauh, ia tak hanya melihat kaum Yahudi sebagai kaum untuk dijajah, tetapi menghormati dan mencintai kaum tersebut. Mencintai kaum tersebut berarti pula mengakui dan menerima hukum mereka, di antaranya adalah hukum Torah untuk mengasihi Allah dengan segenap jiwa dan dengan segenap tenaga. Sang prajurit itu telah memiliki sebuah iman akan kekuatan Allah yang hadir dalam diri Yesus. 

Utusan berikutnya adalah "sahabat-sahabat" sang prajurit tersebut. Mungkin mereka ini adalah orang-orang asing Roma, orang-orang yang dianggap tak layak menerima rahmat Allah. Mereka ini datang dengan sebuah warta bahwa sang prajurit tersebut menganggap tidak layak menerima kedatangan Yesus. Mereka memberikan kabar bahwa Yesus tak usah datang ke rumah sang prajurit. Namun kendatipun sang prajurit merasa tidak layak, ia masih mengharapkan agar Yesus mau mengucapkan walau cuma sepatah kata saja, dan dengan itu ia yakin bahwa hamba yang dikasihinya itu akan menjadi sembuh kembali. Ia yakin akan kekuatan dan kuasa dalam kata Yesus. Dan inilah dasar dari mukjizat penyembuhan tersebut. Kendatipun kaum Yahudi menyatakan bahwa ia layak mendapat belas kasih Yesus karena ia telah banyak berbuat baik bagi kaum Yahudi, namun penyembuhan tersebut tidak terjadi karena hal-hal ini. Mukjizat tak disebabkan karena perbuatan besar yang dilakukan sang prajurit, tetapi terletak pada kedalaman iman yang ada dalam diri sang prajurit tersebut. Dengan menyatakan bahwa dirinya tidak layak, dengan menyatakan bahwa apa yang diperbuatnya sama sekali tak berarti, sang prajurit tersebut sebetulnya telah membuka diri, telah membuka hati bagi karya ilahi.

Sang prajurit, seorang asing, seorang kafir telah membuka diri bagi karya agung Allah. Kata-katanya sering kita ucapkan lagi setiap hari, setiap saat ketika kita merayakan misa kudus. Namun, mari kita bertanya diri apakah di saat mengucapkan kata-kata tersebut, kita sungguh telah membuka diri bagi Allah. Mari kita belajar bersama dari sang prajurit kafir yang beriman ini.

Tarsis Sigho – Taipei