ˇ@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Kebijaksanaan dari Afrika

Tiga hari yang lalu saya harus ke markas polisi di Panchiao untuk memperpanjang Alien Residence Certificate (ARC). Saat terakhir saya ke markas polisi ini adalah setahun yang lalu dengan maksud tujuan yang sama. Maklumlah, sebagai penduduk asing di tanah rantau, setiap tahun kami harus memperpanjang visa agar bisa tetap bekerja di sini.Dan dalam jangka waktu setahun ini, ternyata Panchiao telah berubah dengan begitu cepat. Di depan kantor pemerintah Taipei County sudah terdapat alun-alun yang luas dengan jalan yang lebar dan rapi. Gedung-gedung baru dan tinggi nampak saling berlomba mempertunjukan ke-modern-nya. Taman-taman kota yang baru bermunculan, pada hal dulu tempat tersebut adalah tempat pemukiman kumuh.  

Ada teman yang bahkan mengatakan bahwa Taiwan bisa mengubah dunia dalam waktu semalam. Kedengarannya berlebihan, namun kalau diperhatikan sungguh nampaknya benar juga. Jarak Taipei ˇV Kaohsiung yang dulunya bisa menempuh waktu tercepat selama tiga jam dengan kereta, kini telah bisa ditempuh dengan jangka waktu kurang dari satu jam dengan menggunakan kereta super cepat, sebuah jarak waktu yang hamper sama dengan menggunakan pesawat terbang. Dulu kalau orang bepergian dari Taipei ke Ilan harus melewati dataran pegungunan dengan pembelokan yang tajam dan berbahaya selama dua jam lebih. Namun sekarang Taiwan telah menerobos jantung gunung Hsue Shan (Gunung Salju) membangun terowongan terpanjang di Asia sehingga memperpendek waktu mengendara mobil hanya empat puluh lima menit untuk tiba di Ilan. Masih banyak kemajuan fisik lainnya yang rasanya tak perlu disebutkan satu-persatu di sini. 

Setelah melihat semua kenyataan tersebut, saya lalu bertanya diri; ˇ§Seiring dengan kemajuan fisik tersebut, apakah orang Taiwan kini menjadi lebih berbahagia? Apakah orang Taiwan kini menjadi lebih relaks, lebih mudah menikmati hidup serta lebih enteng menemukan nafkah? Pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab. Di awal tahun ini, yakni pada awal bulan Februari lalu, Taiwan telah menggeser posisi Jepang sebagai Negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Tak asing lagi untuk mendengar berita bahwa seluruh anggota keluarga terjun ramai-ramai dari gedung tinggi dan mati seketika. Tak asing lagi untuk mendengar berita bahwa ada professor, dokter, artis yang mati membunuh diri. Kini bahkan murid sekolah dasar telah banyak menjadikan bunuh diri sebagai salah satu pilihan bila mereka berhadapan dengan tantangan hidup yang susah diatasi. 

Kita mungkin bertanya mengapa demikian? Mungkin kisah dari Afrika berikut ini bisa membantu kita memahami situasi di Taiwan ini. Ada sekelompok peneliti dari Eropa memasuki pedalaman Afrika untuk membuat penelitian di sana. Mereka membawa serta sejumlah peralatan yang berat, namun di sana ternyata tak bisa dijangkau oleh kendaraan bermotor. Karena itu mereka mengundang penduduk asli untuk membantu memikul peralatan mereka. Kendatipun beban yang dipikul tersebut sangat berat namun mereka seakan terbang dalam perjalanan mereka. Mereka memikul beban tersebut dengan senang hati. Selama tiga hari berturut-turut mereka bergerak menempuh jarak yang tidak pendek. Namun ketika tiba di pagi hari keempat. Ketika para peneliti tersebut telah bersiap-siap melanjutkan perjalanan mereka, mereka menemukan para pembantu mereka masih tertidur pulas tak bergerak. Walau dibangunkan, dibujuk dipaksa, mereka tetap saja tidak bergerak. Apakah ada kata-kata yang salah yang dilontarkan dan menyakiti mereka? Bukankah kemarin semuanya nampak begitu bergembira? Atau...apakah uang yang diberikan terlalu kurang? 

Di saat itu, satu di antara penduduk asli itu memberikan penjelasan, bahwa menurut adat kebiasaan mereka, jika seseorang berjalan menempuh waktu selama tiga hari berturut-turut, maka pada hari ke empat mereka harus beristirahat. Dengan demikian jiwa mereka tidak ketinggalan, dengan cara ini jiwa mereka yang mungkin bergerak lebih lamban dari badan mereka memperoleh cukup waktu untuk mengejar tubuh mereka, dengan ini jiwa diberi cukup waktu untuk mengejar bayangan diri sendiri. 

Nampaknya cara berpikir mereka sulit untuk kita pahami. Namun adat kebiasaan mereka ini memiliki arti yang begitu dalam bagi kehidupan seorang anak manusia yang sehat lahir bathin. Kita sering dikejar seribu kesibukan. Ada saja hal yang membuat kita pusing tujuh keliling, yang membuat kita tak mampu duduk tenang walau hanya untuk semenit. Kita hidup dalam kecemasan, kita hidup bagai seorang buronan. Dalam situasi yang demikian kita tak mampu meneliti, menilai dan mengambil hikmah dari pengalaman masa silam, serta tak mampu menyusun strategi, menentukan arah perjalan masa depan yang tepat. Ini bisa berakibat fatal, yakni bahwa kita memiliki tubuh yang nampaknya seakan tak berjiwa. Kia nampak bagaikan mayat yang mampu  bergerak. 

Kembali ke Taiwan. Kemajuan fisik nampak begitu cepat dan orang mungkin belum siap untuk menerima kemajuan baru tersebut. Jiwa mereka mungkin tak mampu mengejar kemajuan fisik yang begitu cepat. Akibatnya, banyak orang kehilangan wawasan, banyak orang kehilangan arah, banyak orang menjadi mayat hidup. Dan kita bisa membayangkan nasib akhir yang akan mereka nikmati: ˇ§bunuh diri.ˇ¨ 

Teman-temanku...Mari kita belajar dari kebiasaan Afrika di atas. Kita memberikan cukup waktu agar jiwa kita mampu mengejar derap langkah kemajuan fisik kita, agar jiwa kita mampu mengejar bayangan diri kita

Salam dari Taiwan

Tarsis Sigho ˇV Taipei