@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Kematian Yohanes Pembaptis

Tanggal 29 Agustus kita memperingati hari kematian Santu Yohanes Pembaptis, yang dibunuh secara kejam oleh Herodes dan kepalanya dihidangkan di tengah pesta ulang tahunnya.

Yohanes Pembaptis!!! Mungkin setelah anda selesai membaca bacaan Injil hari ini (Mark 6:17-29), anda akan bergumam; "Sayang, Yohanes harus dipenggal kepalanya. Mengapa hal ini harus terjadi padanya?" Bukankah Yohanes dipilih secara amat istimewa untuk menjadi bentara Yesus Kristus? Bukankah Yohanes dipilih secara amat istimewa untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan? Bukankah ia telah berseru-seru di padang gurun mengundang jiwa yang berdosa untuk bertobat?
"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." (Mark 1:4). Bukankah dengan demikian Tuhan seharusnya menjaga Yohanes agar jiwa dan raganya tidak berada dalam ancaman dan mara bahaya?

Yohanes Pembaptis...!!! Ia tampil dan bersaksi tentang Yesus. Kesaksian tersebut dilakukan Yohanes justru sejak saat ia masih dalam kandungan ibunya. Ia tidak menunggu hingga ia bertumbuh dewasa, hingga ia sendiri telah memiliki wawasan yang mandiri penuh rasa tanggung jawab baru bersaksi tentang Yesus. Ia tidak menanti hingga selesai belajar dibekali dengan setumpuk pemahaman teologis, ia juga tidak menunggu hingga semua Kitab Suci didalaminya baharu ia muncul di depan publik untuk bersaksi tentang Yesus sebagai Putera Allah. Sebelum ia dilahirkan, sebelum ia mampu melihat bumi ciptaan ini, selagi ia masih dalam kandungan ibunya ia telah bekerja. Ia melonjak kegirangan ketika Maria datang mengunjungi Elisabeth ibunya, dan karena lonjakan tersebut Elisabeth ibunya akhirnya tahu bahwa yang kini berada di hadapannya adalah seorang ibu Tuhan, seorang ibu yang dalam rahimnya bertumbuh janin yang kelak dilahirkan dan diberi nama Yesus, sang Putera Allah.

Setelah dilahirkan, Yohanes menjalani suatu cara hidup yang ditandai oleh suatu bentuk askese yang keras. Kitab Suci menulis: "...Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun..." (Mark 1:4). Ia menjauhi kehidupan khalayak ramai, ia rela hidup di padang gurun yang gersang, panas terik di siang hari dan dingin menggigil di malam hari. Kitab Suci juga masih bersaksi: "Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan." (Mark 1:6). Ketika orang ingin berpakaian mewah dan berpesta ria, ketika orang berebutan menduduki kursi terdepan dalam "banquet hall", Yohanes justru memilih memakai kulit unta dan makan belalang hidup.

Sekian bodohkah Yohanes? Apakah Yohanes tidak sedang dilanda penyakit SGM, alias Sinting, Gila dan Mengong? Untuk apa ia membiarkan hidupnya seakan dilanda kemalangan secara demikian? Temanku..., Yohanes bukanlah seorang bodoh. Ia bukanlah seorang yang sedang dilanda sakit jiwa. Ia tidak gila. Namun ia tahu pasti akan satu hal, yakni bahwa ia butuh waktu untuk ada bersama Tuhan dan menyiapkan diri sebelum tampil di depan publik. Ia butuh untuk membangun kekuatan batiniah, ia butuh membangun benteng yang kuat dan kokoh agar mampu menghadang arus jamannya, ia butuh suatu kekuatan batiniah yang memampukannya untuk berdiri kokoh dan tidak terbawa arus jamannya. Yohanes tahu apa yang sedang diperbuatnya, yakni mempersiapkan diri untuk mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Ia tahu bahwa pewartaan ini bagaikan menuntun air mengalir dari lembah menuju puncak bukit, suatu usaha yang berlawanan dengan arus jamannya.

Yohanes bertekun dalam karyanya demi Kerajaan Allah. Dan karena itu menurut kalkulasi dan spekulasi manusiawi kita, ia seharusnya dijaga, dilindungi dan diberkati secara istimewa oleh Tuhan. Ia seharusnya tidak mendekam gelapnya kamar penjara. Lebih lagi, nyawanya seharusnya tak boleh hilang di tangan kaum durhaka, hidupnya seharusnya tak boleh ditentukan oleh tangan kaum durjana, oleh tangan kolompok manusia yang seakan haus akan aliran darah tak bersalah. Allah seharusnya membangun benteng yang aman di sekeliling Yohanes Pembaptis sehingga jiwa dan raganya terbebas dari berbagai ancaman. Itulah pikiran kita manusia.

Namun aneh seribu aneh. Yohanes justru mendekam pojok kamar penjara yang gelap. Lebih lagi, kepala Yohanes justru pada akhirnya dijadikan seumpama salah satu dari sekian menu makanan yang dihidangkan saat perayaan hari ulang tahun Herodes. Yohanes yang walau masih sebagai janin namun telah mulai bekerja bersaksi tentang Yesus, Yohanes yang hidup miskin di padang gurun, Yohanes yang berkoar berteriak tentang pentingnya sebuah pertobatan, Yohanes yang berseru tentang datangnya Kerajaan Allah, Yohanes yang berbicara tentang kebenaran dan keadilan, namun pada akhirnya harus menerima ajalnya di ujung sebuah pedang tajam. Kita mungkin akan berteriak; "Tuhan di manakah Engkau? Mengapa Engkau diam tak mengulurkan tanganMu? Mengapa kaum tak bersalah harus mengucurkan darah merah?" Kita semua heran. Kita tak mengerti.

Mungkin pengalaman Yohanes adalah juga pengalaman kita. Kita dibaptis menjadi katolik. Kita mengikuti semua tuntutan hidup sebagai seorang katolik. Banyak di antara kita yang bahkan mengorbankan waktu, tenaga bahkan barang material guna mendukung kehidupan gereja. Dan kita tentu mengharapkan upah yang bisa kita nikmati. Kita ingin mendapat berkat istimewa. Kita ingin dibebaskan dari berbagai tantangan hidup. Namun kita juga sering kecewa. Kita juga sering bertanya; "Tuhan, apakah mataMu masih terbuka untuk melihat kepedihan hidupku? Apakah telingaMu masih terbuka untuk mendengar keluh kesahku?"

Temanku.... Bukankah Yesus pernah berkata bahwa seorang murid tak akan melebihi gurunya? Dan bukankah kita tahu bahwa sang Guru yang kita ikuti adalah Yesus sendiri? Dan kalau sang Guru telah menemui ajalnya di ujung sebuah tombak saat tubuhnya tergantung hina di palang salib, maka nasib kita pun tak akan lebih baik dari itu. Dan sang Guru tidak memilih cara kematian yang ngeri seperti itu. Ia memilih CINTA, dan cinta justru bermuara pada pengorbanan. Banyak orang mengira bahwa kematian di ujung sebuah tombak, kematian di ujung sebuah pedang atau kematian di depan laras senjata adalah tanda suatu kekalahan yang paling kalah. Sesungguhnya aku katakan bahwa anggapan mereka ini sama sekali salah. Darah yang ditumpahkan oleh para martir merupakan benih iman yang tertabur. Pada saatnya benih iman ini akan bertumbuh kembang, dan tak ada kekuatan apapun yang bisa menghalangi pertumbuhannya. Temanku, jangan takut. Mari kita tetap bertekun.

Santu Yohanes Pembaptis, doakan kami yang masih mengembara di bumi yang keras ini, agar kuat selalu dan secara berani tampil untuk bersaksi tentang datangnya Kerajaan Allah.
Amen.

Tarsis Sigho V Taipei