ˇ@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Kita lebih berarti dari semua masyalah kita

Yesus meninggalkan tepi danau Galilea dan naik ke atas bukit. Ketika saya berada di tepi danau Galilea sebulan yang lalu, dapatlah dengan mudah melihat sebuah bukit di tepi danau ini. Di atas puncak bukit ini terdapat sebuah gereja yang disebut ˇ§Gereja delapan sabda bahagiaˇ¨. Di sekeliling gereja ini nampak rindang dengan pohon-pohon hijau, namun di masa Yesus tempat ini hanyalah tanah pasir berwarna kuning dan batu-batu karang. Anehnya, justru di tengah siang bolong, di bawah teriknya matahari, banyak orang mendaki bukit ini mencari Yesus. Apa yang mereka cari? Tentu tak ada alasan lain, kecuali ingin mendengarkan kata-katanya yang penuh daya, kata-katanya yang membawa kekuatan dan penghiburan.

Ketika melihat orang banyak ini, Yesus mulai mengajar. Namun Ia tidak bertolak dari sejarah masa silam, ia tidak berbicara tentang kejayaan Daud dan Salomon di masa silam. Ia juga tidak berbicara tentang situasi masa depan yang masih dipenuhi tanda tanya. Ia tidak memanfaatkan kemungkinan dan kegelapan masa depan untuk menakut-nakuti orang banyak yang kini mengelilinginya. Ia memandang mereka semua. Ia tahu bagaimana situasi mereka setiap hari, situasi mereka saat kini yang susah, yang penuh dengan berbagai bentuk penderitaan. Dan bertolak dari kenyataan hidup mereka inilah Yesus membuka mulutnya dan memberikan ajarannya.

Dari mulutnya keluarlah delapan Sabda bahagia. Berbahagialah kamu yang miskin... Berbahagialah kamu yang berdukacita.... Berbahagialah kamu yang lemah... Berbahagialah kamu yang laparˇK. Berbahagialah kamu yang murah hatinya... Berbahagialah kamu yang suci hatiˇKBerbahagialah kamu yang membawa damai.... Berbahagialah kamu yang dianiaya... (Mt 5:1-12ª). Saat pertama kali saya membaca perikope Injil hari ini, ada sebuah rasa aneh yang sedemikian besar muncul di dasar bathinku. Kok orang miskin disuruh untuk merasa berbahagia? Mana ada orang yang sedang menangis disebut berbahagia? Mana ada orang yang merasa bahagia karena sedih dan menangis? Adakah orang yang dipukul dan dianiaya.....disebut berbahagia. Siapakah yang pernah tertawa bahagia di saat ia dirajam dengan batu???

Pernahkah anda, ketika berpapasan dengan seorang pengemis di pinggir jalan yang sedang mengulurkan tangannya meminta sedekah untuk hari ini, lalu anda dengan penuh percaya diri berkata; ˇ¨Berbahagialah engkau yang sekarang meminta-minta?ˇ¨ Atau ketika anda mengunjungi sebuah keluarga yang sedang meratapi kematian salah satu anggota keluarganya, lalu anda berkata; ˇ§Berbahagialah engkau yang sekarang ini meratap?ˇ¨ Sekilas, bacaan Injil hari ini sungguh terasa amatlah aneh.

Namun hari ini ketika saya membaca lagi kedelapan ucapan bahagia ini, aku justru dipenuhi dengan keharuan yang luar biasa. Mengapa? Adalah pengalaman kita bersama, ketika kita sedang dilanda kesedihan, saya dan anda akan terpaku pada keadaan kita saat ini. Kita  kehilangan kemampuan untuk melihat opsi yang lain. Kita merasa diri sendiri seakan seorang manusia yang paling gagal, seorang manusia yang gagal total tanpa harapan. Ketika orang yang kita cintai meninggalkan kita, ketika usaha kita berakhir pada kehancuran, ketika kehidupan keluarga kita nampak porak poranda kita akan berkata pada diri sendiri; ˇ§Aku seorang yang gagal.ˇ¨ Kita kehilangan sepasang mata untuk melihat kenyataan yang lebih luas, kenyataan dan kemungkinan yang lain selain kegagalan yang kini ada di depan mata kita.

Para pengikut Yesus juga mungkin demikian. Mereka datang ke depan Yesus sambil membawa kepedihan hati mereka. Dan justru di tengah situasi hidup yang ditandai oleh sejuta bentuk kepedihan inilah Yesus tampil dan menawarkan suatu harapan baru. Ia membangkitkan kesadaran mereka bahwa mereka tak harus tenggelam dalam kepedihan situasi mereka saat ini. Kendatipun saat ini berada dalam situasi terpukul, situasi kelaparan dan kemiskinan, walaupun mereka saat ini seakan sedang dalam perkabungan, sedang dianiaya, namun mereka tak boleh lupa bahwa mereka mendapat berkat dari Tuhan, suatu berkat yang jauh melampaui kepedihan yang muncul sesaat.

Ketika kita tak mampu melihat pilihan lain, ketika kita seakan buta dan tak mampu melihat kemungkinan lain, Tuhan justru mampu melihat melampaui keadaan kita saat ini yang bersedih hati. Tuhan justru menyatakan bahwa kegagalan, kesedihan, ratap dan tangis bukanlah akhir dari segalanya, dan bahwa kita diberkatinya dengan anugerah yang melampaui keadaan kita saat ini. Karena itu Yesus berkata: ˇ§Terbekatilah kamu, blessed are you. Kamu diberkati, kamu dicintai justru di saat ketika kamu merasa ditinggalkan.ˇ¨ Temanku.....betapa harunya....!

Lewat delapan sabda baghagia ini Tuhan datang dan memberikan peneguhan kepada kita semua. Aku yakin tak ada seorangpun dari antara para pembaca yang tak memiliki masyalah hidup. Kita terikat, kita terbelit sejuta problema. Dan hari ini Tuhan datang memerikan kekuatan, bahwa kita semua jauh lebih berarti dari semua masyalah yang kita hadapi. Tuhan mencintai anda! Amin!!

Tarsis Sigho ˇV Taipei