My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index

Charles Lwanga Dan Martir Uganda

Para martir dari Uganda mengingatkan kita bahwa walaupun Gereja di abad modern ini telah berkembang semakin kuat namun tetap saja mengalami tekanan yang hebat. Walaupun Serikat Missionaris Afrika yang sering dikenal dengan nama the White Fathers?baru saja baru saja berada di Uganda kurang lebih 6 tahun, namun mereka sudah berhasil membangun suatu persekutuan Kristen yang kuat. Mereka yang baru dipermandikan itu kini memperkuat barisan the White Fathers?dalam karya pewartaan mereka. Banyak dari mereka yang telah menganut kekristenan bekerja di istana Raja Uganda, Raja Mwanga.

Raja Mwanga dikenal sebagai raja yang kejam. Sering kali ia memperkosa pemuda-pemuda kecil yang dijadwalkan melayaninya setiap hari. Berhadapan dengan situasi seperti ini, orang-orang kristen yang bekerja di istana itu di bawah pimpinan Joseph Mkasa berusaha mencari jalan melindungi anak-anak muda tersebut. Ketika raja Mwanga membunuh seorang Misionaris Protestan beserta pengikutnya, Joseph Mkasa menentang tindakan raja yang brutal itu secara terbuka. Sebelumnya raja selalu bersikap baik terhadap Joseph dan membangun suatu persahabatan yang baik, namun ketika di ditantang ia lupa akan persahabatan tersebut. Raja memerintahkan agar Joseph dibunuh. Ketika ia telah diikat sebeluh dipenggal, Ioseph berkata; Seorang Kristen yang memberikan nyawanya bagi Allah tak akan takut untuk mati.?Ia memaafkan segala tindakan raja terhadapnya, namun ia sekali lagi meminta agar raja bertobat dari tindakan jahatnya. Ia dipenggal dan dibakar pada tanggal 15 November 1885.

Setelah kematian Joseph Mkasa, Charles Lwanga Mengambil alil kepemimpinan dalam komunitas Kristen serta tetap berusaha melindungi anak-anak dari kebrutalan tindakan raja. Raja mulai mencurigai komunitas katolik dan pada bulan Mai 1886 ia bertanya kepada salah seorang pekerja, mengapa anak-anak tidak lagi datang melayaninya. Pekerja tersebut menjawab bahwa ia sendiri telah menjadi katolik di bawah bimbingan Denis Sebuggwawo. Raja menjadi sangat marah dan ia sendiri mengangkat pedang dan menghorok tenggorokan Denis dengan tangannya sendiri.

Raja memerintahkan agar sekeliling istana dipagar di malam hari agar tak seorangpun bias melarikan diri. Mengetahui apa yang bakal terjadi atas dirinya, malam itu pula Charles Lwanga membaptis semua katekumen yang selama ini mengikuti pelajarana agama katolik. Keseokan harinya, raja mengumpulkan semua yang pekerja istana dan berkata; Barang siapa yang tidak berdoa berdiri di sampingku, sedangkan yang berdoa berdiri di seberang sana.?Sambil memperhatikan anak-anak muda tersebut (dibawah 25 tahun), raja bertanya apakah mereka tetap bertekad menjadi kristen. Tanpa ragu mereka menjawab Ya? Mereka harus berjalan kaki menempuh jarak 37 km sementara tangan mereka diborgol dan tubuh mereka dicambuki. Ketika dalam perjalanan, mereka melewati biara the White Fathers? Seorang penghuni biara tersebut, P. Lourdel menjadi amat pucat dan hampir jatuh pingsan melihat umatnya, melihat teman-temannya digiring secara kasar. Seorang pemuda, Kizito (13 tahun ) berjalan tegap gembira penuh senyum menerima rahmat kemartiran tersebut.

Di antara mereka ada seorang tentara, namanya James Buzabaliawo. Ketika raja memutuskan untuk membunuhnya bersama-sama para pengikut Kristus yang lain, ia berkata kepada raja; Selamat tinggal, temanku. Aku akan menuju Surga, dan dari sana aku akan berdoa buatmu.?Ketika Pastor Lourdel mengangkat tangan memberikan berkatnya kepada mereka yang melewati biaranya, James Buzabaliawo dengan tersenyum berkata kepada Pastor itu, mengapa engkau bersedih? Bukankah ini adalah kegembiraan terbesar berkorban demi iman seperti yang kau ajarkan kepada kami??

Ke 22 Martir dari Uganda yang pestanya dirayakan pada tanggal 3 Juni itu bagai pupuk yang menyuburkan benih iman di Uganda. Dewasa ini kekristenan di Uganda berkembang secara kokoh dan hidup. Keberanian mereka bertahan demi dan dalam iman layak menjadi teladan bagi kita.

(Diambil dari: http://saints.catholic.org/stsindex.html)

Tarsis Sigho