¡@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Tibo Cs: Mari Nyanyikan Alleluya

Saat itu saya sedang berada di Yeriko dalam perjalanan dari Nasareth menuju Yerusalem. Handphone saya berdering dan sebuah berita muncul di sana; ¡§Kae (Bahasa Flores yang artinya kakak), sebuah berita sedih. Tibo cs telah dieksekusi pagi ini. Doakan mereka.¡¨ Sedih!! Lemah!! Lebih lagi saya merasa heran. Heran akan keputusan pemerintah Indonesia untuk mengeksekusi tiga pidana mati tersebut walaupun masih ada begitu banyak ketidak-jelasan sedang beredar. Heran bahwa pemerintah Indonesia bisa sedemikian keras kepala dan tidak mau mendengarkan suara keras banyak pihak. Heran bahwa pemerintah Indonesia masih belum mampu mengerti vox populi vox Dei. Banyak orang, bukan saja dalam negri tercinta ini, tetapi juga di seluruh pelosok bumi bertanya; ¡§What is behind all these?¡¨ Tibo cs sudah berulang kali mengatakan bahwa mereka sama sekali tak bersalah. Banyak saksi muncul dan berdiri de belakang mereka, bukan saja dari kalangan sendiri tetapi bahkan juga dari kelompok protestan dan Islam. Namun demikian, ternyata darah kaum tak bersalah harus ditumpahkan kembali saat ini. 

Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bagaimana kisah para nabi yang tak bersalah yang harus meneteskan darah mereka. Abel sebagai yang pertama dalam Kitab Perjanjian Lama yang harus meneteskan darah tak bersalah, hingga Zakaria sebagai yang terakhir dari kelompok tak berasalah namun yang telah dibunuh mati disebutkan dalam Injil hari ini. Dan Yesus menegaskan dengan penuh keyakinan; ¡§...dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini.¡¨ (Luk 11; 50-51). Darah mereka yang tak bersalah akan kembali untuk menuntut suatu bentuk keadilan. 

Setelah kembali lagi ke Taiwan, saya mendapat berita bahwa ada begitu banyak aksi yang muncul sebagai reaksi atas tindakan eksekusi itu. Ada sejumlah aksi kekerasan. Ada pembakaran gedung dan lain sebagainya. Demikianlah bila hidup seorang manusia diremehkan. 

Seorang teman yang saat ini sedang bekerja di Singapore menelpon saya dan bercerita banyak tentang pandangannya sendiri sehubungan dengan kasus eksekusi tersebut. Dan saya kagum dengan pandangannya yang nampak lain dari kebanyakan orang lain. Dengan penuh semangat ia berkata; ¡§Romo, kita tak seharusnya bersedih dan marah. Kita tak perlu mencari bentuk pembalasan dendam. Sebaliknya, kita seharusnya berpesta setelah Tibo cs dieksekusi. Kita seharusnya menyanyikan lagu Alleluya.¡¨ Sejenak nampaknya pandangan temanku ini aneh. Namun ia melanjutkan bahwa kita seharusnya berbangga bahwa seorang dari antara kita yang seiman berani menerima suatu penghukuman yang tidak adil. Memang kita telah berjuang, namun di hadapan kekuatan yang bersahabat usaha kita ini bagai melempar batu ke dalam lumpur. Sedikit reaksipun tidak ada. Dalam kesempatan begini kita hendaknya berbangga bahwa sesama kita rela menerima penghukuman demikian. Bukankah kebanyakan para nabi mengalami hal serupa? Bukankah Joan de Arc, Santo Denis dan masih banyak lagi yang harus mati dengan cara demikian?  

Temanku masih menambahkan; ¡§Apa yang kelihatan sebagai kekalahan oleh pihak lain justru merupakan kemenangan kita.¡¨ Kata-kata ini sungguh serupa dengan ungkapan Paulus; ¡§Apa yang nampak sebagai kelemahanku adalah kekuatanku.¡¨ Ia masih mengatakan bahwa kita seharusnya berdoa agar lebih banyak lagi mau dan rela untuk kalau boleh mengorbankan nyawa sendiri demi kebenaran. Kita harus berani untuk hal ini. 

Kata-kata temanku di atas muncul lagi sedemikian kuat pada hari ini setelah membaca Injil hari ini. Para nabi yang telah dibunuh di masa silam yang kini sudah berada di sisi Tuhan menjadi teladan kita. Jangan takut untuk terus bersaksi. Amin!! 

Tarsis Sigho - Taipei