¡@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Si Sakit Yang Bodoh

Dalam bacaan Injil hari Minggu kemarin (Mark 10:17-27), kita mendengar bahwa seorang muda yang kaya sambil berlari datang menjumpai Yesus. Tak hanya demikian, ia menghempaskan diri di hadapan Yesus, bersujud menyembahNya. Dari tindakan ini bisa kita lihat betapa pemuda ini berharap untuk menemukan sesuatu yang telah lama dirindukannya. Kendatipun Kitab Suci menyatakan bahwa ia adalah seorang yang kaya raya, namun nampak jelas bahwa ia tak merasa puas dengan kekayaannya. Barang lahiriah yang dimilikinya tak mampu menjamin ketenangan bathinnya. Ia mencari dan terus mencari. 

Boleh dikatakan bahwa ia sadar akan kekurangan dalam dirinya. He lacks something. Sungguh suatu paradoks, yakni bahwa ia menemukan adanya kehampaan di dasar bathinnya justru di tengah kelimpahan harta kekayaannya. Hal ini membenarkan kata-kata kaum bijak; ¡§Harta kekayaan bukanlah satu-satunya jaminan untuk memperoleh kebahagiaan.¡¨ Menyadari kelemahan dan kekurangan tersebut, dia sang kaya raya ini datang dengan berlari menghadap Yesus, dan berlutut di hadapan sang tukang kayu miskin ini. ¡§Apa yang harus aku lakukan agar memperoleh kehidupan kekal?¡¨ 

Yesus mampu memandang tembus dalam diri sang kaya tersebut. Ia tahu apa yang dikehendakinya. Yesus tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi kelemahannya, untuk mengatasi kekurangannya. Yesus tahu bahwa hanya dengan melakukan satu hal saja, maka si kaya tersebut tak perlu cemas berkepanjangan, karena itu Ia berkata; ¡§Pergilah, juallah harta milikmu, berikan itu kepada kaum miskin dan datanglah mengikuti aku.¡¨ Sang kaya lesu. Sang kaya seketika menjadi lemah. Hasrat yang menggebu sebelumnya kini sirna. Kita Suci menyebut alasan kesedihannya; ¡§Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.¡¨ 

Aku membayangkan bahwa sang kaya tersebut adalah seorang sakit dan Yesus adalah seorang dokter. Si sakit dalam penderitaannya yang mendalam datang menghadap dokter. Ia sendiri tak tahu penyakit apa yang dideritanya, ia mempercayakan hidupnya di tangan sang dokter. Setelah menjalani pemeriksaan yang teliti, sang dokter menemukan penyakitnya, dan memberikan obat-obat yang perlu agar si sakit sembuh lagi. Namun¡Kyakinkah anda bahwa si sakit sembuh lagi? No! Ia tidak sembu dari sakitnya. Apa alasannya? Karena obat tidak diminum dan resep yang diberikan sang dokter tidak ditaati. Ia selamanya hidup dalam penderitaannya. 

Aku kira dirikupun sering sama bodohnya dengan si sakit di atas. Aku sama bodohnya dengan sang kaya dalam bacaan Injil tadi. Aku mencari sesuatu yang sangat aku butuhkan, dan akupun telah menemukannya. Namun aku tak mau menerima apa yang aku butuhkan itu hanya karena aku takut untuk memberikan sedikit pengorbanan. Semoga temanku sekalian tak sama bodohnya dengan diriku. Semoga anda mampu memilih yang terbaik. Amin. 

Salam dari Taiwan

Tarsis Sigho - Taipei