ˇ@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Siapakah Yang Berbahagia?

Setiap kali membaca Kitab Suci, selalu saja saya temukan sesuatu yang baru walaupun perikope yang sama telah dibaca berulang kali. Misalnya saja dalam bacaan Injil hari ini. Seorang ibu, seorang wanita berseru dari tengah kerumunan orang banyak: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Tetapi Yesus berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

Kemarin-kemarin saya berpikir bahwa sang wanita yang berani tampil di tengah orang banyak dan berseru lantang ini sesungguhnya memuji Maria Bunda Yesus. Ia memuji Maria yang telah mengandung Yesus, Maria yang telah menyusui Yesus. Dan jawaban Yesus seakan menyepelekan kebesaran Maria, jawaban Yesus seakan menyangkali ucapan pujian sang wanita di atas terhadap Maria. Aku sering mencoba untuk merumuskan kata-kata Yesus dalam bentuk lain; ˇ§Siapa bilang ibuku berbahagia? Kamu semua yang hadir di sini dan mendengarkan sabdaku jauh lebih hebat dari pada ibuku.ˇ¨ Inilah gagasan yang sering muncul saat aku membaca dua ayat dari perikope Injil hari ini.

Namun kemarin saat saya sekali lagi membaca perikope yang sama, sebuah gagasan lain muncul di benakku. Sesungguhnya sang wanita yang berseru lantang di tengah orang banyak itu memuji Yesus sendiri. Sang wanita dalam bacaan hari ini mengagumi kebesaran Yesus dalam kata-katanya. Misalkan anda seorang yang hebat, bisa membuat mujizat menyembuhkan banyak orang sakit dan mengusir setan. Anda menjadi sangat terkenal dan dikunjungi serta dikagumi banyak orang. Lalu seorang ibu datang ke depan anda dan berkata; ˇ§Betapa bahagianya bila saya menjadi ibu yang mempunyai seorang anak seperti anda ini!ˇ¨ Siapakah yang dipuji dalam kalimat ini? Apakah ibumu yang dipuji dan dikagumi? Tentu saja bukan, tetapi anda sendirilah yang dikagumi dan dipuji. Demikian pula yang terjadi dalam perikope Injil hari ini, Yesus dipuji oleh wanita yang muncul di tengah kerumunan orang banyak karena Ia mengajar dengan penuh wibawa, karena ia berbicara dengan penuh kuasa sehingga setan-setanpun takluk di hadapanNya.

Dan..., apakah jawaban Yesus menyangkali kebesaran ibuNya? Dalam terjemahan bahasa Inggris yang aku pakai, jawaban Yesus adalah sebagai berikut: ˇ§Rather, blessed are those who hear the word of God and keep it.ˇ¨ Yesus menggunakan kata ˇ§ratherˇ¨, yang dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan dengan ˇ§sebaliknyaˇ¨. Kata ˇ§ratherˇ¨ bisa berarti suatu negasi, suatu penyangkalan terhadap pernyataan yang muncul, suatu ungkapan yang mementingkan sesuatu lebih dari pada yang lain. Misalnya: He would ˇ§ratherˇ¨ play than work, artinya ia lebih memilih bermain dari pada bekerja. Jadi, apakah dalam jawaban di atas, Yesus menyangkali Maria Ibunya sebagai seorang yang berbahagia? Bukankah Maria telah digelari ˇ§berbahagiaˇ¨ ketika ia menerima kabar gembira malaikat Gabriel? Kata ˇ§ratherˇ¨ dalam bahasa Yunani adalah ˇ§menoungeˇ¨, kata ini bisa berarti suatu kontrast namun tak menyangkali pernyataan yang muncul setelahnya. Kata menounge ini memperluas kategorinya merangkul baik pernyataan yang terdahulu maupun yang kemudian. Jadi ketika Yesus mengatakan: ˇ§Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanyaˇ¨, Ia sesungguhnya mengatakan bahwa baik ibuNya maupun para pendengarNya yang kini berada di sekelilingNya adalah kaum yang berbahagia.

Kitapun mungkin sama seperti sang wanita dalam bacaan Injil hari ini bermimpi untuk memiliki anak yang penuh kebijaksanaan, anak yang mampu membuat mujizat seperti Yesus. Namun mimpi seperti ini adalah sebuah mimpi di siang hari bolong, sesuatu yang tak akan pernah mungkin. Namun demikian, kitapun bisa turut serta dalam kelompok kaum yang berbahagia, yakni dengan secara tekun mendengarkan Sabda Tuhan, merenungkannya serta menghidupkannya dalam hidup harian kita.

 Tarsis Sigho - Taipei