My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index

Menuju Tanah Asing

¡§Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk.¡¨ (Mark 16:15). Warta yang ditinggalkan Yesus kepada para muridNya ini terus saja bergema dan menggerakkan semua orang Kristen untuk turut berperan serta dalam karya besar tersebut. Konsili Vatikan II secara indah merumuskan bahwa gereja pada dasarnya bersifat missioner. Secara praktis karya pewartaan sering ditandai oleh peristiwa pengutusan para missionaries ke daerah yang sama sekali baru, yang memiliki tata adab yang sungguh berbeda, dengan gaya pikir serta tata nilai yang sungguh asing. Dalam diri misionaris terjadilah proses pertemuan budaya. Dan tak mustahil bila sang misionaris pada tahap-tahap awal mengalami keterasingan dan goncangan. Situasi ini dalam bahasa Alvin Tofler disebut ¡¥culture shock¡¦.

Sean Samon menulis dalam ¡¥Human Development¡¦ bahwa bentrokan budaya yang dialami para misionaris secara umum mengikuti tiga tahap, yakni masa transisi atau peralihan, masa kebingungan dan frustrasi, dan pada akhirnya adalah penemuan sebuah arah yang baru. Dan ketika saya meneropong pengalaman saya sendiri sebagai seorang misionaris, ternyata sayapun terperangkap dalam tiga tahap tersebut.

Kesepian mendalam

Masa ini sering ditandai oleh peristiwa ¡¥pelepasan¡¦, baik secara formal melalui upacara pengutusan, maupun secara informal melalui pesta perpisahan, atau kunjungan terakhir. Saat ini sering merupakan peristiwa yang berat karena adanya perasaan ambivalen yang dirasakan sang misionaris. Ia berdiri di antara dua tegangan, yakni antara pergi dan tinggal, antara merasa berat dan ringan untuk berangkat. Saya ingin pergi karena tawaran Yesus itu sungguh kuat. Adalah suatu kebahagiaan untuk menjadikan ¡§yang buta melihat, yang timpang berjalan, yang menderita kusta disembuhkan, yang tuli mendengar, dan yang mati dibangkitkan.¡¨ (Luk 7:2). Namun di balik itu keterikatan dasariah, keintiman primordial yang mengikat saya dengan duniaku sejak aku dikandung ibuku, menawarkan tempat yang nyaman untuk berdiam. Di samping itu saya tak tahu apa yang akan disuguhkan oleh duniaku yang baru.

Masa ini masih berlanjut ketika saya telah tiba di tempat yang baru. Aku menemukan adanya suatu lubang yang mengisi batinku. Dunia yang aman telah berlalu, dan saya harus bergelut dengan kesepian yang mendalam di dunia yang baru. Pada saat-sata seperti ini, segala sesuatu yang dapat menghadirkan kembali kenangan indah semasa semasa berasal di tempat asalku, berjejer menghiasi kamar. Kaset lagu yang kubawa akan menjadi teman setiaku setiap hari. Aku berusaha menghadirkan kembali masa lalu pada masa kini. Itulah yang disebut Sammon sebagai masa transisi.

Bingung setengah mati

Pengalaman paling menyakitkan ketika tiba di tempat baru adalah hilangnya kompetensi diri terutama bila harus belajar bahasa asing yang baru. Pesan Yesus untuk menjadi seorang anak kecil dan bersedia untuk belajar lagi dari awal kini sungguh menjadi kenyataan. Betapa pedihnya bila tak mampu mengerti dan dimengerti orang lain. Segala prestasi dan kemampuanku dulu, kini seakan tak bernilai. Aku harus belajar lagi bagaimana harus bersikap dan menginterpretasikan simbol-simbol sosial yang baru. Bahkan untuk sekedar berjalan-jalan ke luar rumah saya harus bergantung pada seseorang yang bertugas menterjemahkan segala sesuatu bagiku. Hilangnya otonomi dan independensi diri sungguh dialami sebagai sesuatu yang nyata.

Adalah benar bahwa bahasa merupakan isi, jiwa dari suatu masyarakat. Karena itu penguasaan bahasa dalam karya misioner merupakan suatu urgensi yang tak dapat ditolak. Kemampuan berbahasa merupakan cermin untuk melihat kemampuan-kemampuan lainnya. Komunitas yang baru sulit mempercayakan suatu tugas kendati begitu sederhana sekalipun, hanya karena soal bahasa. Kenyataan seperti ini memperkokoh hilangnya kompetensi dan kepercayaan diri.

Kehidupan spiritual pun turut menjadi problem. Ketika saya masih di Indonesia, saya terbiasa membaca dan mendengarkan bacaan Kitab Suci dalam bahasa Indonesia, dan mendengarkan kotbah dalam bahasa yang sudah kukenal. Namun kini saya harus bergulat menangkap arti sebuah kata. Dan sebelum saya sungguh menjadi paham akan apa yang dimaksudkan oleh kata tersebut, kotbah telah berakhir. Ah¡Kgembala yang harus menjadi domba.

Kebingungan menjadi lebih intensif bila sang misionaris berhadapan dengan suatu realitas yang baru yang mengoreksi secara total paham tentang Allah yang telah dibangunnya pada masa-masa yang lampau. Bila dasar telah menjadi goyah, maka bangunanpun akan menjadi rapuh.

Para ilmuwan social berpendapat bahwa kita mendekati setiap kenyataan baru dengan berpijak pada kerangka atau harapan yang telah dibangun pada masa-masa yang lampau. Kerangka tersebut akan menjadi penentu bagaimana seseorang harus membangun relasi baru dengan orang lain, dengan dunianya, dan juga dengan Allahnya. Bila kerangka tersebut bersifat kaku dan statis, maka proses untuk mempelajari dan menerima sesuatu yang baru akan menjadi sangat sulit. Namun sebaliknya bila kerangka tersebut bersifat fleksibel secara relatif, maka ia akan belajar penuh minat untuk menemukan apa yang unik dari kenyataan yang baru tersebut.

Karena itu sang misionaris pada tahap-tahap awal dituntut oleh situasinya untuk menilai dan membangun ulang kerangka relasinya dengan sesama, dengan dunianya, dan juga dengan Allahnya. Tugas in tidaklah mudah dan menuntut usaha yang panjang. Keberhasilan dalam proses ini akan menghantarnya menemukan suatu awal, suatu titik langkah baru.

Mata Baru

Seorang misionaris bagaimanapun juga tetap merupakan orang asing di termpatnya yang baru, kendatipun ia telah menjadi warga negara tersebut. Penampakan lahiriah dan logat bahasanya merupakan indikasi praktis yang menjadikannya tetap dianggap asing.

Kendatipun mengalami situasi-situasi seperti di atas, sang misionaris dituntut untuk tetap menjadi ¡§garam yang tak boleh tawar¡¨ (Mat 5:13. Ia harus mampu menggali dan menemukan arti di balik semua peristiwa tersebut. Sebuah nasihat indah yang keluar dari Konstitusi Serikat Sabda Allah sungguh menguatkan aku. ¡§Kita yakin bahwa karya apostolis kita mendapat berkat dari Allah bukan hanya dalam kegembiraan dan keberhasilan, tetapi juga dalam kesukara dan kekecewaan, dalam salah paham dan penyiksaan, dalam kesepian dan juga kegagalan.¡¨ (Konst. 121). Begitulah, ¡§biji gandum harus mati agar dapat menghasilkan buah.¡¨ (Yoh. 12:24).

Nasihat pembimbingku dulu selalu muncul lagi: ¡§Belajarlah mencintai duniamu yang baru.¡¨Dan sungguh dengan berusaha mencurahkan perhatian pada orang lain, dan juga pada segala yang janggal dan baru tersebut dengan kaca mata seorang anak, saya menjadi lupa akan problemaku sendiri. Problema tersebut bahkan menghilang dengan sendirinya.

Begitu indah kata-kata Max Warren dalam bukunya ¡¥Missioner¡¦: ¡§Tugas kita yang pertama dalam mendekati bangsa lain, dan juga agama yang lain adalah bahwa kita harus menanggalkan sepatu karena tempat di mana kita berpijak adalah kudus. Lebih dari itu, hendaknya kita menjadi sadar bahwa Allah telah berada di sana (tempat baru) sebelum kita tiba.¡¨ Maksud Warren adalah jelas bahwa sang misionaris hendaknya bersedia belajar lagi sejak awal.

Tarsis Sigho - Taipei