ˇ@
 
      My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index


Ujian Teologi Moral

Di sebuah Fakultas Teologi. Para mahasiswa dengan penuh cemas menuju ruang kelas. Mereka semua berusaha untuk tiba di ruang kelas tepat pada waktunya. Malam sebelumnya mereka telah belajar hingga larut malam, menghafal norma-norma etik serta semua prinsip moral, bahkan titik dan koma tak luput dari hafalan mereka. Mengapa mereka berbuat demikian? Karena hari ini akan diadakan ujian. Kegagalan menempuh ujian teologi moral akan mempengaruhi derap langkah mereka selanjutnya untuk menjadi imam. 

Pagi itu, dengan cepat mereka melewati pintu gerbang fakultas itu. Mereka menghendaki agar memiliki sedikit waktu untuk menenangkan diri sebelum menghadapi soal ujian. Namun justru di depan pintu fakultas itu muncul sebuah adegan aneh. Di sudut pintu duduk seorang pengemis tua. Rupanya ia baru pertama kali duduk di sana. Hari-hari sebelumnya tak pernah kelihatan seorang yang berpakaian compang-camping duduk di sudut pintu gerbang ini. Mukanya pucat, badannya kotor. Ia mengulurkan tangannya menantikan sedekah untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya sehari itu. 

Banyak di antara para mahasiswa yang berbuat seolah-olah tidak melihatnya, membalikan punggungnya dan pergi tergesa-gesa takut kehilangan waktu. Ada juga yang sempat berdiri sebentar dan dengan heran memperhatikan pengemis tua tersebut, namun setelah itu segera pergi. Tak seorangpun yang rela memberikan uluran tangan memberikan bantuan. Ada juga yang hanya memberikan janji bahwa sore nanti baru akan datang lagi memberikan bantuan. 

Kini tibalah mereka di dalam ruang ujian. Waktu ujianpun tiba, dan mereka menanti dengan penuh cemas. Namun beberapa menit kini berlalu. Lima menit...sepuluh menit...lima belas menit. Akhirnya sang dosen muncul di depan kelas, dan setelah dengan tenang memperhatikan para mahasiswa tersebut satu persatu, ia berkata; ˇ§Ujian hari ini telah selesai. Kertas ujian telah diberikan kepada kalian semua, dan semua telah memberikan jawaban.ˇ¨ Semoa bengong! Semua nampak keheranan! Sang dosen melanjutkan; ˇ§Prinsip-prinsip moral bukanlah sesuatu yang kaku dan mati, tetapi suatu norma untuk diamalkan dalam hidup nyata dalam inter aksi kita dengan manusia lain. Pengemis yang duduk di gerbang fakultas itu adalah kertas ujian kalian, dan kalian telah memberikan jawaban kalian masing-masing.ˇ¨

--------

Bila prestasi akademik yang tinggi tanpa diimbangi dengan tata hidup yang penuh kasih, maka semuanya itu akan merupakan sesuatu yang mati. Santu Paulus secara indah membenarkan hal ini ketika ia menuliskan kata-kata berikut ini; ˇ§Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.ˇ¨ (1 Kor 13: 1-2).

Tarsis Sigho - Taipei