My Links
  Pondokrenungan.com  kumpulan  renung- an, cerita iman, kesaksian iman 
svdc hina. We are profesional missio- naries
  catholic.org.tw Konferensi Keuskupan China, Regi- onal (wila- yah) Taiwan
catholic.org gives  infor- mation about Catholicism

Kisah-kisah ini juga termuat dalam pondokrenungan.com 

Kembali ke index

Johanes Maria Vianney

Johanes Maria Vianney yang dilahirkan pada tanggal 8 Mei 1786 di Dardilly Prancis itu merupakan Santu pelindung para pastor paroki. Ia berasal dari keluarga yang amat miskin. Pada masa kecilnya ia bekerja sebagai seorang gembala domba, serta membantu keluarganya bekerja di ladang. Ia tak bisa melanjutkan sekolahnya hingga ia telah berumur 20 tahun.

Setelah mengiikuti wajib militer pada masa Napoleon, ia masuk seminari untuk ditempa menjadi imam. Selama di seminari ia berhadapan dengan masa yang paling sulit, karena ia bukan termasuk murid yang bisa dengan mudah memahami pelajaran yang diberikan, terutama bahasa Latin. Para pembimbingnya di seminari serta uskupnya sendiri meraguka kemampuan intelek Vianney. Ia bahkan gagal menempuh ujian sebelum ditahbiskan sebanyak dua kali. Namun Johanes Vianney adalah murid yang tekun, sehingga walaupun dengan amat berat ia pada akhirnya ditahbiskan imam pada tahun 1815 ketika ia berumur 30 tahun.

Dengan berdasarkan pada penilaian bahwa Vianney adalah imam dengan kemampuan yang amat terbatas, Uskupnya menempatkan dia di sebuah kampung terpencil yang bernama Ars. Sejak itu ia hampir tak pernah meninggalkan Ars seumur hidupnya. Ia pernah melarikan diri dari Ars untuk menemukan keheningan doa, namun itu hanya berlangsung untuk jangka waktu yang sangat singkat, dan ia tahu bahwa hal tersebut tak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Johanes Maria Vianney adalah seorang yang amat dedikatif, seorang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi panggilan hidupnya sebagai seorang imam. Ia berkotbah dengan cara yang amat sederhana, serta memiliki kecintaan yang amat dalam terhadap Sakramen Mahakudus dan terhadap Bunda Maria, serta mempunyai devosi khusus kepada St. Filomena.

Ia amat terkenal sebagai seorang bapak pengakuan, dan setiap hari ia akan duduk berjam-jam lamanya (14 sampai 18 jam sehari) mendengarkan pengakuan, dan hanya sedikit waktu untuk istirahat. Puasa merupakan bagian dari hidup hariannya. Lewat tugasnya sebagai bapak pengakuan, ia memperkenalkan pembaharuan spiritual yang menyentuh tidak hanya orang-orang yang berasal dari parokinya, tetapi bahkan dari seluruh penjuru Prancis. Ketika berita tentang kemashurannya sebagai bapak pengakuan tersebar luas, jutaan orang, para aristokrasi dan bahkan juga para Uskup membuat perjalanan ke Ars untuk menerima bekal rohani darinya. Sungguh suatu mukjizat yang amat besar. Namun mukjizat yang terbesar bagi dari Johanes Maria Vianney adalah hidupnya sendiri, di mana pada awalnya ia dikenal sebagai seorang yang tak memiliki keistimewaan khusus, namun menjelang kematiannya di tahun 1859 ia ternyata menjadi alat pertobatan bagi banyak orang. Bagi kita di jaman ini, Johanes Maria Vianney merupakan bukti nyata bagaimana Allah melakukan hal-hal besar melalui mereka yang secara utuh mengabdikan diri kepadaNya serta yang berusaha mencari kehendakNya. Pada tanggal 8 Januari 1905 ia dibeatifikasikan. Dan pada tahun 1925 ia digelarkan sebagai seorang kudus oleh Paus Pius XII, dan pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Agustus.

Tarsis Sigho - Taipei